Alergi Telur : Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Cara Mencegah dan Mengobati Penyakit Alergi Telur

Posted on

Alergi Telur – Alergi telur adalah reaksi tidak biasa dari sistem imunitas tubuh ketika seseorang mengkonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur, sistem imunitas tubuh menduga protein telur dalam makanan tersebut sebagai zat berbahaya, sehingga tubuh melepaskan zat histamin sebagai upaya perlindungan tubuh dalam mengatasi serangan tersebut. Reaksi tubuh seperti itu disebut reaksi alergi.

Baca Juga : Alergi Obat

Biasanya reaksi alergi telur muncul beberapa menit atau beberapa jam setelah mengkonsumsi atau terpapar makanan yang mengandung telur. Gejala yang muncul mulai dari ringan seperti ruam kulit atau hidung tersumbat hingga berat seperti muntah dan gangguan pencernaan. Walaupun begitu, alergi telur jarang menyebabkan reaksi alergi yang bisa membahayakan nyawa (anafilaksis).

Tanda dan Gejala Alergi Telur

Reaksi alergi telur berbeda pada tiap penderita dan biasanya terjadi tidak lama setelah mengkonsumsi atau terpapar bahan yang mengandung telur. Gejala yang timbul berupa gejala ringan, sedang hingga parah, diantaranya:

  • Biduran (hives).
  • Bibir atau kelopak mata bengkak.
  • Mata terasa gatal atau berair.
  • Telinga atau tenggorokan terasa gatal.
  • Hidung tersumbat, hidung mengeluarkan lendir, atau bersin-bersin.
  • Batuk, sesak napas, atau napas berbunyi (mengi).
  • Gangguan pencernaan, seperti kram perut, mual, serta muntah.

Sedangkan, reaksi alergi telur parah atau anafilaksis yang membahayakan nyawa menunjukkan gejala seperti:

  • Nadi berdenyut cepat.
  • Sulit bernapas, karena ada benjolan atau pembengkakan di tenggorokan sehingga saluran udara terhambat.
  • Perut terasa nyeri dan kram
  • Syok, yang ditandai dengan penurunan tekanan darah secara signifikan, pening atau pusing, serta kehilangan kesadaran.

Reaksi alergi parah tersebut tergolong kondisi darurat yang membutuhkan penanganan medis segera.

Baca Juga : Alergi Dingin

Penyebab dan Faktor Risiko Alergi Telur

Alergi telur disebabkan karena sistem imunitas tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap telur atau makanan mengandung telur yang sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh. Sistem imunitas tubuh menganggap protein dalam telur sebagai zat berbahaya, sehingga merespons dengan melepaskan zat histamin untuk melindungi tubuh.

Contoh makanan yang mengandung telur diantaranya roti, permen, krim, saus salad, berbagai makanan yang digoreng dengan lapisan tepung, dan mayones. Sedangkan bahan non makanan yang mengandung telur diantaranya sampo, vaksin, serta bahan riasan wajah. Alergen atau zat yang menimbulkan alergi pada telur bisa berasal dari protein dalam kuning atau putih telur. Akan tetapi, sebagian besar penderita mengalami alergi terhadap putih telur.

Umumnya, alergi telur terjadi pada anak-anak. Alergi telur menjadi reaksi yang sangat mengganggu pada anak yang berusia 6-15 bulan. Bayi yang masih menyusu pada ibunya juga bisa mengalami alergi terhadap protein telur yang dikonsumsi ibunya. Sedangkan pada orang dewasa, alergi telur jarang sekali terjadi. Saat menjelang masa remaja atau ketika sistem pencernaan lebih matang, reaksi alergi terhadap telur sudah lebih jarang terjadi.

Selain usia, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan alergi telur, diantaranya:

  • Memiliki orangtua dengan riwayat alergi makanan atau penyakit asma.
  • Mengalami eksim atopik. Saat mengalami reaksi kulit ini, maka seseorang lebih berisiko mengalami alergi makanan, termasuk alergi telur.

Cara Mendiagnosis Alergi Telur

Untuk dapat mendiagnosis alergi telur, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami pasien terutama jika gejala muncul setelah dia mengkonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur. Untuk memastikan diagnosa, dokter perlu melakukan pemeriksaan penunjang, diantaranya seperti:

  • Tes darah. Tes ini dilakukan dengan memeriksa kadar antibodi tertentu dalam aliran darah yang menunjukkan reaksi alergi.
  • Tes tusuk kulit. Pada pemeriksaan ini, kulit ditusuk dengan sedikit sampel protein dalam telur. Apabila pasien mengalami alergi, maka akan timbul benjolan di lokasi tusukan.

Baca Juga : Cara Mengatasi Penyakit Alergi Anak

  • Tes eliminasi telur. Tes ini dilakukan dengan meminta penderita menghilangkan telur dari makanan dan mencatat semua makanan yang dikonsumsi setiap hari. Dengan menghilangkan asupan telur, akan terlihat apakah gejala yang dialami penderita bisa mereda.
  • Tes tantangan makanan. Tes ini dilakukan dengan cara memberi penderita sedikit telur untuk melihat reaksinya. Apabila tidak terjadi apa-apa, maka porsi telur yang lebih besar akan diberikan untuk melihat tanda alergi. Selain itu, tes ini bisa menyebabkan alergi parah. Untuk itu, tes tantangan makanan harus dilakukan oleh dokter spesialis alergi.

Pengobatan Alergi Telur

Penanganan yang dilakukan pada kasus alergi telur dengan pemberian obat. Pada kasus yang ringan, dokter bisa memberi obat antihistamin, sedangkan untuk kasus yang parah, seperti anafilaksis, dokter akan menyuntikkan epinepherine.

Selain penanganan untuk mengatasi reaksi alergi, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah menghindari konsumsi dan juga paparan telur dan bahan yang mengandung telur. Caranya, dengan membaca label keterangan tentang bahan yang terkandung dalam makanan tersebut. Walaupun begitu, beberapa penderita alergi telur masih bisa menolerir beberapa makanan yang mengandung telur matang.

Saat sistem imunitas tubuh makin sempurna atau saat memasuki masa remaja, banyak penderita yang terbebas dari alergi telur. Sedangkan sebagian penderita dewasa tidak mengalami reaksi alergi kembali setelah 1-2 tahun mengikuti diet eliminasi telur dalam asupan makanan.

Pencegahan Alergi Telur

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah reaksi alergi telur, diantaranya yaitu:

  • Baca label keterangan pada kemasan makanan dengan teliti. Beberapa penderita alergi telur bisa bereaksi meski hanya ada sedikit kandungan telur dalam makanan. Ketika makan di luar rumah, pastikan makanan yang dikonsumsi tidak mengandung telur.
  • Hindari mengkonsumsi telur bagi ibu menyusui yang memiliki bayi penderita alergi telur.
  • Gunakan gelang khusus penderita alergi, khususnya penderita anak dengan alergi yang parah, agar orang-orang di sekitar penderita dapat mengetahui kondisi tersebut.

Baca Juga : Cara Mengobati Gatal Kulit Alergi

Demikian pembahasan tentang alergi telur, mulai dari gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosa, pengobatan dan pencegahan penyakit alergi telur. Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya.