Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) : Gejala, Penyebab, Faktor Risiko dan Pengobatan Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)

Posted on

Penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) – Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) atau sklerosis lateral amiotrofik merupakan penyakit sistem saraf yang melemahkan otot-otot dan memengaruhi fungsi fisik.

Baca Juga : Stroke

Amyotrophic Lateral Sclerosis adalah gangguan saraf yang bisa memburuk seiring waktu hingga menyebabkan kelumpuhan. Pada awalnya, amyotrophic lateral sclerosis ditandai dengan kedutan otot, otot melemah dan gangguan bicara.

Sklerosis lateral amiotrofik adalah penyakit yang menjadi terkenal pada tahun 2014 melalui ice bucket challenge, yakni tantangan yang dilakukan dengan menyiram seember air dingin dari atas kepala. Tantangan tersebut dibuat untuk mengumpulkan dana penelitian terhadap penyakit sklerosis lateral amiotrofik ini.

Secara spesifik, ALS menyerang otak dan saraf tulang belakang yang mengendalikan gerakan otot (saraf motorik). Seiring waktu, saraf akan semakin rusak. Akibatnya, penderita ALS kehilangan kekuatan otot, kemampuan bicara, makan hingga bernapas.

Tanda dan Gejala Amyotrophic Lateral Sclerosis

Seringkali gejala awal ALS dimulai dari tungkai lalu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Seiring perkembangan penyakit, gejala akan semakin memburuk, sel-sel saraf akan rusak dan otot akan terus melemah sehingga memengaruhi kemampuan penderita dalam berbicara, mengunyah, menelan dan bernapas.

Baca Juga : Penyakit Ensefalopati

Gejala Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) diantaranya yaitu:

  • Kram atau kaku otot serta kedutan di lengan dan lidah.
  • Lengan terasa lemas dan sering menjatuhkan barang.
  • Tungkai melemah sehingga sering jatuh atau tersandung.
  • Sulit menegakkan kepala dan menjaga posisi badan.
  • Sulit berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Gangguan bicara seperti bicara tidak jelas atau terlalu lambat.
  • Sulit menelan, mudah tersedak dan meneteskan air liur dari mulut.

Meski mengganggu pergerakan, penyakit yang dikenal dengan nama penyakit Lou Gehrig ini tidak mempengaruhi fungsi indera dan kemampuan untuk mengendalikan buang air kecil maupun buang air besar serta tetap bisa berpikir dengan baik dan berinteraksi dengan orang lain.

Segera ke dokter jika merasakan perubahan pada otot lengan dan tungkai, kram otot di tungkai dan badan terasa lemah selama beberapa hari atau minggu. Pemeriksaan ke dokter juga perlu dilakukan apabila ada perubahan pada cara bicara atau berjalan. Jika memang terdiagnosis penyakit amyotrophic lateral sclerosis (sklerosis lateral amiotrofik), lakukan pemeriksaan secara rutin ke dokter saraf agar perjalanan penyakit lebih terpantau.

Penyebab dan Faktor Risiko Amyotrophic Lateral Sclerosis

Penyebab penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis atau penyakit Lou Gehrig belum bisa dipastikan. Akan tetapi, sekitar 5-10% kasus ALS diketahui terkait dengan faktor keturunan. Selain faktor keturunan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) diduga terkait dengan sejumlah kondisi seperti:

  • Kelebihan glutamat. Glutamat merupakan zat kimia yang berperan sebagai pengirim pesan dari dan ke otak serta saraf. Tapi jika menumpuk di sekitar sel saraf, glutamat bisa menyebabkan kerusakan pada saraf.
  • Gangguan sistem imun. Pada penderita ALS, sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel-sel saraf yang sehat sehingga menyebabkan kerusakan pada sel-sel tersebut.
  • Gangguan mitokondria. Mitokondria merupakan tempat pembentukan energi di dalam sel. Gangguan dalam pembentukan energi bisa merusak sel-sel saraf dan mempercepat perburukan ALS.
  • Stres oksidatif. Kadar radikal bebas yang berlebihan akan menyebabkan stres oksidatif dan menyebabkan kerusakan pada berbagai sel tubuh.

Baca Juga : Lumpuh Otak (Cerebral Palsy)

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), yaitu:

  • Berusia antara 40-70 tahun.
  • Memiliki orang tua yang menderita ALS.
  • Terpapar zat kimia timbal dalam jangka panjang.
  • Memiliki kebiasaan merokok.

Cara Mendiagnosis Amyotrophic Lateral Sclerosis

Untuk dapat mendiagnosis ALS, dokter akan bertanya secara rinci mengenai gejala yang dialami pasien, serta melakukan pemeriksaan fisik. Untuk menyingkirkan kemungkinan gejala disebabkan oleh penyakit lain, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan seperti:

  • Elektromiogram (EMG), untuk memeriksa aktivitas listrik otot.
  • Pemeriksaan MRI, untuk melihat sistem saraf yang bermasalah.
  • Uji sampel darah dan urine, untuk mengetahui kondisi kesehatan penderita secara umum, adanya kelainan genetik, atau adanya faktor penyebab lain.
  • Pemeriksaan kecepatan hantar saraf, untuk menilai fungsi saraf-saraf motorik tubuh.
  • Pengambilan sampel (biopsi) jaringan otot, untuk melihat kelainan pada otot.
  • Pemeriksaan pungsi lumbal, untuk memeriksa sampel cairan otak yang diambil melalui tulang belakang.

Pengobatan Amyotrophic Lateral Sclerosis

Pengobatan ALS bertujuan untuk menghambat perkembangan penyakit dan mencegah komplikasi. Metode pengobatan yang dapat diberikan antara lain:

Obat-obatan
Untuk mengatasi ALS, dokter bisa memberikan obat-obatan berikut:

  • Baclofen dan diazepam, fungsinya untuk meredakan gejala kaku otot yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Trihexyphenidyl atau amitriptyline, fungsinya untuk membantu pasien yang mengalami kesulitan menelan.

Baca Juga : Encephalomalacia (Pelunakan Otak)

Terapi
Terapi pada ALS dilakukan untuk membantu fungsi otot dan pernapasan. Terapi yang bisa diberikan diantaranya yaitu:

  • Terapi pernapasan, tujuannya tujuannya untuk membantu pasien yang mengalami kesulitan bernapas akibat melemahnya otot-otot
  • Terapi fisik (fisioterapi), tujuannya untuk membantu pasien bergerak serta menjaga kebugaran tubuh, kesehatan jantung, dan kekuatan otot pasien.
  • Terapi bicara, tujuannya untuk membantu pasien berkomunikasi dengan baik.
  • Terapi okupasi, tujuannya untuk membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
  • Pengaturan asupan nutrisi, dengan menyediakan makanan yang mudah ditelan, namun tetap mencukupi kebutuhan gizi pasien.

ALS tidak bisa diobati sepenuhnya. Akan tetapi, berbagai pengobatan di atas dapat meredakan gejala dan membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari.

Komplikasi Amyotrophic Lateral Sclerosis

Seiring perkembangan ALS, penderita dapat mengalami sejumlah komplikasi diantaranya yaitu:

  • Kesulitan berbicara.
  • Kesulitan bernapas.
  • Kesulitan untuk makan, yang bisa menyebabkan penderita kekurangan nutrisi dan cairan.
  • Demensia, yaitu penurunan daya ingat dan kemampuan dalam membuat keputusan.

Baca Juga : Gegar Otak (Konkusio Otak)

Demikian artikel pembahasan tentang penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS) atau sklerosis lateral amiotrofik mulai dari pengertian, gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosa, pengobatan dan komplikasi penyakit amyotrophic lateral sclerosis secara lengkap. Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya