Borderline Personality Disorder (BPD) : Gejala, Penyebab, Faktor Risiko dan Pengobatan Borderline Personality Disorder (BPD)

Posted on

Borderline Personality Disorder (BPD) – Borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang merupakan gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati, perilaku, dan hubungan yang tak stabil.

Seseorang yang mengalami BPD memiliki cara pikir, cara pandang, serta perasaan yang berbeda dibanding orang lain pada umumnya. Akibatnya, timbul masalah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan menjalin hubungan dengan orang lain, seperti hubungan dalam keluarga dan di lingkungan pekerjaan.

Baca Juga : Gangguan Obsesif Kompulsif (OCD)

Umumnya, gangguan ini muncul pada periode menjelang usia dewasa. Dengan penanganan berupa psikoterapi dan pemberian obat, penderita borderline personality disorder bisa membaik seiring bertambahnya usia.

Penyebab gangguan kepribadian borderline tidak dipahami dengan baik. Diagnosis dilakukan berdasarkan gejala.

Gejala BPD termasuk ketidakstabilan emosional, perasaan tidak berharga, rasa tidak aman, impulsif, dan hubungan sosial terganggu.

Penanganan BPD berupa terapi bicara, atau pada sebagian kasus, obat-obatan. Rawat inap membantu pada gejala yang parah.

Tanda dan Gejala BPD (Borderline Personality Disorder)

Biasanya, gejala gangguan kepribadian ini muncul pada masa remaja menjelang dewasa dan bertahan saat usia dewasa. Gejala yang muncul dapat berupa gejala yang ringan hingga berat. Berikut ini gejala BPD diantaranya yaitu

  • Kondisi mood atau suasana hati yang tidak stabil. Biasanya kondisi ini bertahan selama beberapa jam seperti merasa hampa atau kosong, serta kesulitan mengendalikan amarah.
  • Gangguan pola pikir dan persepsi. Seperti tiba-tiba ada pemikiran bahwa dirinya buruk serta perasaan takut akan diabaikan sehingga melakukan perbuatan yang ekstrim.
  • Perilaku impulsif. Perilaku ini cenderung membahayakan diri sendiri atau melakukan tindakan ceroboh dan tidak bertanggung jawab. Contohnya melukai diri sendiri, mencoba bunuh diri, melakukan hubungan seks tanpa pengaman, penyalahgunaan alkohol, atau makan berlebihan.
  • Menjalin hubungan yang intens, tapi tidak stabil. Kondisi ini ditandai dengan bisa sangat mengidolakan seseorang dan tiba-tiba menganggap orang tersebut bersikap kejam atau tidak peduli.

Tidak semua penderita BPD mengalami seluruh gejala tersebut. Sebagian hanya mengalami beberapa gejala. Tingkat keparahan, frekuensi, serta durasi terjadinya gejala pada setiap penderita berbeda-beda, tergantung kondisi gangguan yang dialami.

Baca Juga : Agoraphobia (Takut Keramaian)

Penyebab dan Faktor Risiko BPD (Borderline Personality Disorder)

Penyebab pasti borderline personality disorder belum dapat diketahui dengan jelas. Beberapa faktor yang diduga dapat memicu terjadinya kondisi borderline personality disorder diantaranya yaitu:

  • Lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang negatif diduga dapat menimbulkan gangguan kepribadian ini. Contohnya riwayat pelecehan dan penyiksaan semasa kecil, atau dicampakkan oleh orangtua.
  • Genetik. Gangguan kepribadian bisa diturunkan secara genetik.
    Kelainan pada otak. Menurut penelitian, penderita BPD memiliki perubahan struktur dan fungsi pada otak, terutama pada area yang mengatur impuls dan emosi. Pada penderita BPD juga diduga ada kelainan fungsi dari zat kimia otak atau neurotransmitter yang berperan dalam pengaturan emosi.
  • Ciri kepribadian tertentu. Beberapa tipe kepribadian lebih berisiko untuk mengalami BPD, misalnya kepribadian agresif dan impulsif.

Cara Mendiagnosis BPD (Borderline Personality Disorder)

Untuk dapat mendiagnosis borderline personality disorder (BPD), dokter akan menanyakan gejala yang dialami. Selain itu, dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan keluarga, termasuk riwayat gangguan mental. Setelah menemukan adanya perilaku yang sesuai dengan pola gejala BPD dan menyingkirkan kemungkinan lain lewat pemeriksaan fisik, dokter akan menetapkan diagnosis.

Pengobatan BPD (Borderline Personality Disorder)

Setelah diagnosis BPD ditetapkan, sebaiknya pasien memberi tahu hasil diagnosis pada keluarga, teman, atau orang yang dipercaya. Banyak gejala BPD mempengaruhi hubungan pasien dengan lingkungan sekitar, sehingga dengan melibatkan mereka dalam penanganan kondisi ini, akan membuat pengobatan pasien berjalan lebih efektif.

Ada beberapa jenis terapi psikoterapi yang bisa efektif dalam menangani kasus BPD, diantaranya yaitu:

Baca Juga : Kleptomania

Dialectical behavior therap (DBT). Terapi ini dilakukan melalui dialog dengan tujuan agar pasien bisa mengendalikan emosi, menerima tekanan, dan memperbaiki hubungan dengan orang lain. Terapi ini bisa dilakukan sendiri atau di dalam sebuah grup konsultasi bersama seorang terapis.

Mentalization-based therapy (MBT). Terapi ini menitikberatkan metode berpikir sebelum bereaksi. Terapi MBT membantu penderita BPD mengenali perasaan dan pikirannya sendiri dengan menciptakan perspektif alternatif dari situasi yang tengah dihadapi. Terapi ini dilakukan dalam jangka panjang (sekitar 18 bulan) dan diawali dengan rawat inap untuk mengadakan sesi individu setiap hari. Setelah jangka waktu tertentu bisa dilanjutkan dengan rawat jalan.

Schema-focused therapy. Terapi ini membantu penderita BPD mengenali kebutuhan yang tidak terpenuhi pada periode awal hidup yang bisa memicu pola perilaku hidup negatif. Terapi akan memfokuskan pada usaha pemenuhan kebutuhan tersebut melalui cara yang lebih sehat agar terbangun pola perilaku hidup yang positif. STerapi ini bisa dilakukan secara perorangan maupun di dalam grup konsultasi.

Transference-focused psychotherapy (TFP) atau terapi psikodinamis. Terapi ini membantu penderita BPD mengenali kebutuhan yang tidak terpenuhi yang bisa memicu pola perilaku hidup negatif. Terapi akan memfokuskan pada usaha pemenuhan kebutuhan tersebut melalui cara yang lebih sehat agar terbangun pola perilaku hidup yang positif. Terapi ini bisa dilakukan secara perorangan maupun di dalam grup konsultasi.

General psychiatric management. Terapi ini membantu pemahaman terhadap masalah emosi yang terjadi dengan mempertimbangkan perasaan interpersonal. Terapi bisa dipadukan dengan pemberian obat, terapi kelompok, penyuluhan pada keluarga bahkan perorangan.

Pelatihan sistem untuk prediktabilitas emosional dan pemecahan masalah atau systems training for emotional predictability and problem-solving (STEPPS). Terapi STEPPS ini merupakan terapi kelompok bersama keluarga, teman, pasangan, atau pengasuh sebagai bagian dari kelompok terapi yang berlangsung selama 20 minggu. Terapi ini juga digunakan sebagai terapi tambahan bersama psikoterapi lainnya.

Penggunaan obat-obatan dalam terapi BPD lebih bertujuan dalam mengurangi gejala atau komplikasi yang mungkin muncul, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Jenis-jenis obat yang digunakan tetap memerlukan resep dokter, diantaranya yaitu:

  • Antidepresan
  • Antipsikotik
  • Obat penyeimbang suasana hati

Baca Juga : Body Dysmorphic Disorder (BDD)

Pada kasus tertentu, penderita BPD dapat melalui perawatan di rumah sakit untuk mencegah kecenderungan melukai dirinya sendiri atau bunuh diri. Proses pemulihan BPD kemungkinan akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan terapi yang dilakukan dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Konsultasikan dengan dokter jiwa yang berpengalaman dengan BPD dapat membantu pasien mengembangkan kepribadiannya ke arah yang lebih baik.

Komplikasi BPD (Borderline Personality Disorder)

Jika tidak ditangani dengan benar, borderline personality disorder (BPD) berisiko mengganggu berbagai aspek dalam kehidupan penderita, seperti mengalami hubungan sarat konflik sehingga mengakibatkan stress atau perceraian, kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah hukum, hamil tanpa direncanakan, serta kematian akibat bunuh diri.

Selain gangguan dalam kehidupan, penderita BPD juga berisiko mengalami gangguan mental lain seperti:

  • Depresi
  • Gangguan kecemasan
  • Gangguan bipolar
  • Gangguan makan
  • Penyalahgunaan alkohol atau NAPZA
  • PTSD
  • ADHD

Demikian artikel pembahasan tentang borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang, mulai dari pengertian, gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosa, penanganan dan komplikasi borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang secara lengkap. Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya.