Dispraksia : Penyebab, Risiko, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan Dispraksia (Dyspraxia) Pada Anak

Posted on

Penyebab, Risiko, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan Dispraksia (Dyspraxia) Pada Anak – Dispraksia merupakan gangguan perkembangan usia anak ditandai dengan kecanggungan pada anak-anak yang sehat. Dispraksia juga disebut dengan gangguan koordinasi perkembangan.

Dispraksia adalah sebuah gangguan neurologis yang menyebabkan gangguan pada kemampuan seseorang untuk merencanakan dan memproses sebuah gerakan motorik.

Baca Juga : Disleksia (dyslexia)

Gangguan koordinasi perkembangan ini dapat terjadi sendiri atau karena gangguan perkembangan lainnya, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Kondisi ini biasanya berlanjut sampai dewasa. Gejala dyspraxia berupa terlambat duduk atau berjalan. Anak-anak merasa sulit melompat atau mengerjakan tugas seperti mengikat tali sepatu. Perawatan yang bisa dilakukan untuk penderita dispraksia ini termasuk terapi okupasi dan fisik untuk meningkatkan koordinasi.

Seseorang dengan dispraksia sering memiliki gangguan dalam berbicara dan terkadang memiliki masalah dalam persepsi. Dispraksia tidak berpengaruh pada intelegensi seseorang.

Penyebab dan Faktor Risiko Dispraksia

Penyebab dispraksia belum diketahui secara pasti. Tapi, para ahli meyakini bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh sel saraf yang mengatur bagian gerakan otot yang tidak berkembang dengan sempurna. Apabila hubungan antara saraf dan otot tidak baik, maka tubuh membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memroses sebuah gerakan.

Baca Juga : Tremor

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko dispraksia diantaranya:

  • Kelahiran prematur.
  • Berat bayi lahir rendah.
  • Riwayat keluarga dengan dispraksia.
  • Paparan alkohol atau obat narkotika saat kehamilan.

Tanda dan Gejala Dispraksia

Gejala dispraksia yang muncul bergantung pada usia penderita . Berikut ini gejala umum yang muncul dalam dispraksia, diantaranya:

  • Keseimbangan yang buruk.
  • Postur yang buruk.
  • Kelelahan.
  • Kebingungan.
  • Gangguan dalam berbicara.
  • Koordinasi tangan dan mata yang buruk.
  • Masalah dalam memersepsikan sesuatu.

Baca Juga : Cacingan Pada Anak

Diagnosis Dispraksia

Untuk dapat mendiagnosis dispraksia, dokter akan melihat secara detail riwayat perkembangan anak, kemampuan intelektual, dan perkembangan gerak kasar dan gerak halus anak. Pemeriksaan terhadap kemampuan gerak kasar dan gerak halus anak bisa dilakukan untuk melihat sejauh mana perkembangan motorik anak.

  • Kemampuan gerak kasar. Mengetahui bagaimana anak bisa menggunakan otot besar untuk mengkoordinasikan gerakan tubuh, seperti melompat, melempar, jalan, berlari, dan menjaga keseimbangan
  • Kemampuan gerak halus. Mengetahui bagaimana anak bisa menggunakan otot yang lebih kecil untuk membuat gerakan, seperti memasukkan kancing, menggunting suatu bentuk, dan menulis.

Baca Juga : Katarak Pada Bayi dan Anak

Pengobatan Dispraksia

Meski dispraksia tidak bisa disembuhkan, tapi ada beberapa cara untuk meningkatkan kualitas motorik seseorang. Berikut pengobatan yang bisa diberikan pada penderita dispraksia, diantaranya yaitu:

  • Terapi okupasi. Tujuannya untuk melihat fungsi anak dalam kehidupan, baik di rumah maupun di sekolah. Terapi ini akan memfokuskan anak untuk dapat berperilaku dan melakukan kegiatan sehari-hari
  • Terapi wicara. Terapi ini dilakukan jika ada keterlambatan bicara pada anak dengan dispraksia.
  • Bermain aktif. Ini merupakan terapi yang melibatkan fisik anak, dimana anak akan bermain secara aktif di dalam maupun luar ruangan, ini diyakini bisa meningkatkan kemampuan dan koordinasi motorik anak.
  • Cognitive Behavioural Therapy (CBT). Tujuannya untuk melatih tingkah laku anak.

Baca Juga : Makanan Untuk Kecerdasan dan Perkembangan Otak Anak

Pencegahan Dispraksia

Cara mencegah dispraksia bisa dilakukan dengan:

  • Menghindari rokok, alkohol, dan obat narkotika saat kehamilan.
  • Memeriksakan kehamilan secara rutin.
  • Konseling genetik, apabila didapati riwayat keluarga dengan gangguan serupa.

Komplikasi Dispraksia

Dispraksia dapat menyebabkan beberapa komplikasi diantaranya

  • Gangguan komunikasi. Terjadi jika gangguan dispraksia disertai dengan keterlambatan bicara, sehingga anak menjadi sulit mengkomunikasikan ide atau gagasan sesuatu.
  • Gangguan perilaku dan emosi. Ini biasanya diakibatkan karena anak tidak bisa berperilaku baik di sekolah atau di rumah. Mereka cenderung memiliki kecemasan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya karena gangguan motorik yang dimiliki.
  • Gangguan akademis. Karena adanya gangguan dalam gerak halus, beberapa anak menjadi kesulitan untuk menulis dan mencatat pelajaran, sehingga hal itu menjadi hambatan dalam kemampuan akademis anak.

Demikian pembahasan tentang dispraksia mulai dari pengertian, penyebab, gejala, pengobatan dan pencegahanĀ  penyakit dispraksia, semoga bermanfaat.