Ekshibisionisme : Pengertian, Faktor Penyebab, Ciri dan Terapi Pengobatan Gangguan Seksual Ekshibisionisme

Posted on

Gangguan Seksual Ekshibisionisme – Apa yang dimaksud dengan gangguan seksual ekshibisionisme? Agar lebih memahaminya, kali ini kita akan membahas tentang pengertian gangguan seksual ekshibisionisme, faktor penyebab, ciri dan terapi pengobatan gangguan seksual ekshibisionisme secara lengkap.

Baca Juga : Penyakit Varikokel

Pengertian Gangguan Seksual Ekshibisionisme

Ekshibisionisme adalah suatu bentuk penyimpangan seksual dengan memamerkan alat kelamin di tempat umum, terutama ke lawan jenis, untuk mendapatkan kepuasan seksual. Sebagian besar pelaku ekshibisionisme adalah pria, walaupun wanita juga bisa mengalami gangguan seksual tersebut. Lebih singkatnya ekshibisionisme adalah suka memamerkan alat kelamin.

Ekshibisionisme merupakan bagian dari gangguan seksual parafilia. Parafilia adalah dorongan, gairah, fantasi, atau perilaku seksual yang menyimpang dengan melibatkan objek, aktivitas, atau situasi yang bagi orang pada umumnya tidak menimbulkan gairah seksual.

Seseorang akan didiagnosis memiliki gangguan seksual ekshibisionisme jika perilaku ini sudah berlangsung selama minimal 6 bulan dan menimbulkan penderitaan, gangguan atau kerugian, baik bagi penderita maupun orang lain.

Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan Seksual Ekshibisionisme

Penyebab gangguan seksual ekshibisionisme belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, ada beberapa faktor diduga bisa menyebabkan atau meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan seksual ini, diantaranya yaitu:

Baca Juga : Hipospadia

Faktor genetik dan neuropsikologis
Gangguan seksual ekshibisionisme diduga disebabkan oleh terganggunya perkembangan otak janin sejak dalam kandungan.

Faktor trauma masa kecil
Beberapa peristiwa yang menyebabkan trauma pada masa kecil, seperti pelecehan seksual, penderitaan emosional dan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Fantasi seksual yang menyimpang bisa menjadi salah satu bentuk mekanisme untuk mengatasi trauma masa kecil tersebut (coping mechanism).

Faktor lain
Ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko terjadinya perilaku ekshibisionisme, seperti kepribadian antisosial, penyalahgunaan alkohol dan kurangnya rasa percaya diri.

Ciri-Ciri Penderita Gangguan Seksual Ekshibisionisme

Biasanya, gejala gangguan seksual ekshibisionisme mulai muncul pada usia 15-25 tahun dan mulai berkurang seiring bertambahnya usia. Berikut ciri ciri penderita gangguan seksual ekshibisionisme, diantaranya yaitu:

  • Merasa puas saat memamerkan alat kelamin kepada orang asing di tempat umum. Sebagian penderita ekshibisionisme gemar memamerkan alat kelaminnya hanya ke kelompok orang tertentu, misalnya anak kecil atau lawan jenis.
  • Muncul gairah seksual jika melihat korban merasa kaget, takut, atau kagum, yang diikuti dengan masturbasi. Akan tetapi, tidak ada tujuan untuk melakukan kontak fisik atau hubungan seksual lebih lanjut dengan korban.
  • Cenderung sulit memulai atau mempertahankan suatu hubungan, baik hubungan asmara maupun pertemanan.
  • Tidak jarang penderita ekshibisionisme juga menunjukkan gejala gangguan parafilia lainnya dan dianggap mengalami.

Terapi Gangguan Seksual Ekshibisionisme

Tidak banyak penderita gangguan seksual ekshibisionisme yang memeriksakan dirinya ke psikiater atau psikolog. Mereka cenderung menyembunyikan gangguan yang dimilikinya karena merasa bersalah, malu atau memiliki masalah keuangan dan hukum.

Baca Juga : Fimosis

Padahal, penderita gangguan seksual ini dianjurkan untuk segera mendapatkan penanganan baik secara medis maupun psikologis. Hal tersebut perlu dilakukan sebelum ia membahayakan diri sendiri dan orang lain bahkan melakukan tindakan kriminal. Terapi ekshibisionisme dilakukan oleh psikiater dengan metode yang beragam sesuai tingkat keparahan gangguan yang dialami penderita. Beberapa metode terapi yang dapat dilakukan adalah:

Psikoterapi

Dengan melakukan psikoterapi, penderita akan menjalani sesi konseling individu atau kelompok. Beberapa topik dalam konseling tersebut bersifat spesifik, seperti topik pernikahan atau keluarga. Psikoterapi diharapkan bisa membantu penderita untuk memperbaiki perilaku dan kemampuan berinteraksi secara sosial.

Terapi obat

Jenis obat yang diberikan pada penderita ekshibisionisme bisa berupa penekan hormon, antidepresi atau pengontrol mood. Umumnya, obat-obatan tersebut bekerja dengan cara mengurangi dorongan seksual sehingga perilaku seksual yang menyimpang juga bisa ditekan.

Terapi untuk gangguan ekshibisionisme bersifat jangka panjang dan keberhasilan terapi tergantung pada setiap individu. Apabila penderita memiliki keinginan untuk sembuh dan menjadi pribadi yang lebih baik, maka peluang keberhasilan terapi pun akan lebih besar.

Gangguan seksual ekshibisionisme bisa berdampak pada kehidupan pribadi, sosial dan pekerjaan hingga konsekuensi hukum. Meskipun penderita ekshibisionisme tidak bertujuan untuk melakukan kontak fisik lebih lanjut dengan koban, tapi hal ini jangan dianggap sepele karena bisa menimbulkan ketakutan atau trauma psikologis pada korban, terutama anak-anak.

Jika melihat perilaku ekshibisionisme, tindakan yang perlu dilakukan adalah segera pergi dari lokasi kejadian dan minta pertolongan orang lain atau petugas keamanan yang ada di sekitar. Maka, penderita ekshibisionisme dapat segera diamankan dan ditangani.

Baca Juga : Disfungsi Ereksi (Impotensi)

Demikian artikel pembahasan tentang pengertian gangguan seksual ekshibisionisme, faktor penyebab, ciri dan terapi pengobatan gangguan seksual ekshibisionisme secara lengkap. Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya.