Muntaber : Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Muntaber (Muntah Berak)

Posted on

Penyakit Muntaber – Muntaber atau muntah berak atau dalam medis disebut Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada dinding saluran pencernaan, khususnya lambung dan usus. Biasanya muntaber ditandai dengan gejala berupa mual, muntah dan diare yang muncul secara tiba-tiba.

Baca Juga : Penyakit Diare

Umumnya muntaber disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri di saluran pencernaan, walaupun sebagian kecil bisa terjadi akibat zat racun, bahan kimia maupun reaksi terhadap obat-obatan.

Cara mencegah muntaber dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk rajin mencuci tangan dan tidak mengkonsumsi makanan yang tercemar virus atau bakteri penyebab muntaber.

Muntaber bisa sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari. Untuk mencegah kekurangan cairan atau dehidrasi, penderita muntaber diharuskan banyak minum air putih. Jika diperlukan, minum juga larutan oralit untuk menjaga kadar elektrolit dalam tubuh.

Tanda dan Gejala Muntaber

Gejala utama muntaber adalah diare yang disertai mual dan muntah. Gejala tersebut biasanya muncul sekitar 1-3 hari setelah terinfeksi. Umumnya gejala akan berlangsung selama 1-2 hari, tapi juga bisa mencapai 10 hari. Selain itu, gejala mutaber diantaranya yaitu

  • Sakit dan kram perut.
  • Tidak nafsu makan.
  • Penurunan berat badan.
  • Demam, sakit kepala dan pegal linu.

Biasanya dalam beberapa hari muntaber dapat sembuh dengan sendirinya, namun jika gejala cukup parah seperti:

  • Mengalami gejala dehidrasi, seperti jarang buang air kecil dan mulut kering.
  • Demam di atas 40⁰C.
  • Selalu muntah setelah minum.
  • Muntah yang berlangsung selama lebih dari 2 hari.
  • Muntah darah.
  • Buang air besar disertai darah.

Maka segera periksakan ke dokter.

Gejala muntaber pada bayi dan anak-anak yang harus diwaspadai dan harus secepatnya mendapatkan penanganan dokter anak, diantaranya yaitu:

  • Mengalami dehidrasi, ditandai dengan frekuensi buang air kecil dan volume urine yang menurun drastis, menangis tanpa air mata dan mulut kering.
  • Terlihat lesu.
  • Diare disertai darah.
  • Demam.
  • Tidak mau makan dan minum.

Penyebab Muntaber

Umumnya, muntaber disebabkan oleh virus. Umumnya ada dua jenis virus penyebab muntaber yaitu Rotavirus dan Norovirus. Selain Rotavirus dan Norovirus, muntaber juga bisa disebabkan oleh Astrovirus, Adenovirus, dan Sapovirus.

Virus penyebab muntaber bisa menyebar melalui makanan yang terkontaminasi dan juga kontak langsung dengan penderitanya seperti pada saat berjabat tangan.

Muntaber juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri pada saluran pencernaan, misalnya penyakit tipes dan infeksi Shigella. Selain virus dan bakteri, infeksi parasit seperti amebiasis, zat kimia, racun dan reaksi dari obat-obatan seperti antibiotik bisa mengakibatkan muntaber.

Faktor Risiko Muntaber

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena muntaber diantaranya yaitu:

Baca Juga : Melena (Feses Hitam)

  • Anak kecil
  • Anak-anak lebih sering terserang infeksi virus karena belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat.
  • Anak sekolah dan yang tinggal di asrama
  • Infeksi ini bisa menular dengan mudah di tempat-tempat yang terdapat banyak orang berkumpul dengan jarak dekat.
  • Orang lanjut usia
  • Sistem kekebalan tubuh pada orang tua akan menurun. Infeksi ini bisa dengan mudah menular ke orang lanjut usia jika mereka tinggal berdekatan dengan orang yang berpotensi menyebarkan kuman.
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah
  • Seseorang dengan kondisi medis tertentu, misalnya penderita AIDS atau penderita kanker yang menjalani kemoterapi, lebih berisiko tertular infeksi karena kekebalan tubuh mereka lemah.

Cara Mendiagnosis Muntaber

Muntaber bisa sembuh setelah beberapa hari, sehingga penderitanya tidak perlu untuk berobat ke dokter. Tapi pada kasus muntaber yang parah, penderita perlu memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Dokter akan memeriksa kondisi fisik dan menanyakan gejala yang terjadi pada penderita muntaber. Dokter juga akan menanyakan aktivitas terakhir yang dilakukan penderita, termasuk makanan dan minuman yang dikonsumsi.

Apabila ada dugaan bahwa muntaber disebabkan oleh bakteri atau parasit, dokter akan melakukan pemeriksaan tinja. Sampel tinja penderita akan diperiksa di laboratorium untuk memastikan penyebab muntaber.

Selain pemeriksaan sampel tinja, dokter bisa melakukan pemeriksaan penunjang lainnya jika diduga adanya penyebab lain selain virus, atau jika muntaber sudah menyebabkan komplikasi. Pemeriksaan tersebut diantaranya yaitu:

  • Hitung darah lengkap
  • Tes fungsi ginjal
  • Tes elektrolit dalam darah

Cara Mengobati Muntaber

Muntaber bisa sembuh setelah beberapa hari dengan sendirinya, tapi penderita muntaber diharuskan untuk beristirahat juga meminum banyak air untuk mencegah dehidrasi, terutama penderita anak-anak. Selain itu, untuk mengganti cairan tubuh dan elektrolit yang hilang maka penderita bisa meminum larutan oralit.

Penderita muntaber dianjurkan untuk makan dengan porsi sedikit tapi lebih sering, agar asupan nutrisi tubuh tetap terjaga. Penderita muntaber juga dianjurkan memakan makanan yang mengandung kalium tinggi. Ada beberapa makanan lain yang dianjurkan untuk dikonsumsi penderita muntaber setelah kondisinya normal, yaitu:

  • Nasi
  • Kentang
  • Roti
  • Pisang

Selain itu, penderita muntaber harus menghindari makanan dan minuman yang dapat memperparah muntaber, diantaranya seperti:

  • Makanan berserat tinggi.
  • Makanan mengandung gula tinggi.
  • Keju.
  • Yogurt.
  • Alkohol.
  • Kopi.
  • Susu.

Apabila diare tidak juga membaik, maka penderita perlu berkonsultasi dengan dokter. Dokter bisa memberikan obat-obatan antidiare, seperti loperamide atau bismuth subsalicylate. Pada penderita muntaber akibat bakteri, dokter bisa memberikan antibiotik. Tapi perlu diingat, obat antibiotik tidak efektif untuk mengatasi muntaber yang disebabkan oleh infeksi virus.

Baca Juga : Disentri

Sedangkan pengobatan muntaber pada anak harus dilakukan sedini mungkin, karena anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi akibat muntaber dibandingkan orang dewasa. Jadi, untuk mencegah dehidrasi pada bayi maka cukupi kebutuhan cairan dengan memberikannya minum 15-20 menit setelah muntah atau diare. Jeda waktu tersebut dibutuhkan agar pencernaan bayi bisa beristirahat sejenak. Cairan yang bisa diberikan diantaranya air putih, kuah sup, larutan oralit, atau ASI jika bayi masih mengonsumsi ASI eksklusif.

Jika anak muntah setiap kali diberi cairan, maka segeralah konsultasikan dengan dokter. Jika diperlukan, anak akan dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan melalui infus. Kondisi ini tidak boleh diremehkan, karena merupakan salah satu penyebab utama kematian pada anak-anak di Indonesia.

Cara Mencegah Muntaber

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan muntaber, diantaranya yaitu:

  • Rajin mencuci tangan.
  • Selalu memakai peralatan makan dan peralatan mandi.

Selain itu, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan untuk mencegah muntaber pada saat bepergian, diantaranya yaitu:

  • Hindari mengkonsumsi makanan setengah matang.
  • Cuci sayuran maupun buah-buahan hingga benar-benar bersih, sebelum mengkonsumsinya.
  • Beli dan minum air minum dalam kemasan.
  • Hindari konsumsi es batu yang kebersihannya tidak terjamin.
  • Muntaber pada anak-anak paling sering disebabkan oleh rotavirus.
  • Infeksi rotavirus bisa dicegah melalui pemberian vaksin. Vaksin rotavirus dapat diberikan pada anak-anak sejak usia 2 bulan.

Komplikasi Muntaber

Salah satu komplikasi muntaber adalah dehidrasi, dehidrasi akibat muntaber harus segera ditangani agar tidak berakibat fatal. Gejala dehidrasi diantaranya yaitu:

  • Urine berwarna kuning pekat atau gelap
  • Mual
  • Mulut kering
  • Linglung
  • Pusing

Baca Juga : Penyakit Hematochezia (BAB Berdarah)

Demikian artikel pembahasan tentang penyakit muntaber atau muntah berak, mulai datri gejala, penyebab, diagnosa, pengobatan, pencegahan dan komplikasi penyakit muntaber, semoga bermanfaat